Keluhan remaja yang mudah lemas, mengantuk, dan sulit berkonsentrasi sering dianggap sebagai hal biasa. Kondisi ini kerap dikaitkan dengan aktivitas sekolah yang padat, waktu tidur yang kurang, atau penggunaan gawai berlebihan. Namun, salah satu faktor penting yang sering terabaikan adalah peran gizi dalam mendukung energi dan fungsi kognitif remaja. Pada masa pertumbuhan yang pesat, kebutuhan gizi remaja meningkat dan harus dipenuhi secara seimbang agar aktivitas fisik dan mental dapat berjalan optimal.
Perubahan gaya hidup dalam beberapa dekade terakhir membawa dampak besar pada pola makan remaja. Akses yang mudah terhadap makanan cepat saji, minuman manis, dan jajanan tinggi kalori membuat banyak remaja merasa sudah makan cukup, bahkan berlebihan. Namun, di balik rasa kenyang tersebut, tidak sedikit remaja yang justru mengalami kekurangan zat gizi penting. Kondisi inilah yang sering disebut sebagai kenyang tapi kurang gizi.
Dalam beberapa tahun terakhir, tren body goals semakin populer di kalangan remaja. Media sosial dipenuhi dengan konten tentang tubuh ideal, tantangan diet, dan tips menurunkan berat badan secara cepat. Tidak sedikit remaja yang terdorong untuk melakukan diet ketat demi mendapatkan bentuk tubuh yang dianggap menarik atau sesuai standar tertentu.
Prestasi akademik remaja sering kali dikaitkan dengan kemampuan kognitif, metode belajar, dan lingkungan sekolah. Namun, satu faktor penting yang kerap luput dari perhatian adalah status gizi. Padahal, asupan gizi yang cukup dan seimbang memiliki peran besar dalam mendukung fungsi otak, konsentrasi, dan daya tahan tubuh remaja selama proses belajar.