Home > Artikel > Gizi Remaja
Pola Makan Remaja Zaman Sekarang: Kenyang tapi Kurang Gizi
Penulis : Manjilala - 5 Februari 2026
Home > Artikel > Gizi Remaja
Penulis : Manjilala - 5 Februari 2026
Sumber gambar: AI generated
Perubahan gaya hidup dalam beberapa dekade terakhir membawa dampak besar pada pola makan remaja. Akses yang mudah terhadap makanan cepat saji, minuman manis, dan jajanan tinggi kalori membuat banyak remaja merasa sudah makan cukup, bahkan berlebihan. Namun, di balik rasa kenyang tersebut, tidak sedikit remaja yang justru mengalami kekurangan zat gizi penting. Kondisi inilah yang sering disebut sebagai kenyang tapi kurang gizi.
Masalah ini menjadi perhatian serius karena masa remaja merupakan periode pertumbuhan cepat, baik secara fisik maupun psikologis. Kekurangan gizi pada fase ini dapat berdampak jangka panjang terhadap kesehatan dan kualitas hidup di masa dewasa.
Secara umum, pola makan remaja saat ini cenderung tidak teratur. Banyak remaja melewatkan sarapan, makan siang tidak seimbang, lalu mengonsumsi makanan tinggi kalori di sore atau malam hari. Pilihan makanan pun sering didominasi oleh makanan olahan seperti gorengan, mi instan, burger, ayam goreng cepat saji, serta minuman berpemanis.
Makanan tersebut memang memberikan rasa kenyang karena tinggi energi, tetapi rendah zat gizi mikro seperti zat besi, kalsium, zinc, vitamin A, dan vitamin D. Akibatnya, kebutuhan energi mungkin terpenuhi, namun kebutuhan gizi esensial tidak tercukupi.
Selain itu, kebiasaan makan sambil bermain gawai atau menonton juga membuat remaja kurang menyadari kualitas dan porsi makanan yang dikonsumsi.
Salah satu faktor utama adalah pengaruh lingkungan dan media. Iklan makanan cepat saji dan tren kuliner di media sosial mendorong remaja memilih makanan berdasarkan rasa dan popularitas, bukan nilai gizi.
Faktor lainnya adalah kurangnya pengetahuan gizi. Banyak remaja belum memahami bahwa tubuh membutuhkan keseimbangan antara karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral. Bagi sebagian remaja, makan dianggap cukup selama perut terasa kenyang.
Dari sisi keluarga, keterbatasan waktu orang tua juga berperan. Kesibukan membuat pola makan di rumah kurang terkontrol, sehingga remaja lebih sering membeli makanan di luar.
Kondisi kurang gizi pada remaja tidak selalu terlihat secara langsung. Beberapa remaja tetap memiliki berat badan normal atau bahkan berlebih, tetapi mengalami kekurangan zat gizi tertentu.
Dampak yang sering muncul antara lain mudah lelah, sulit berkonsentrasi, dan penurunan prestasi belajar. Kekurangan zat besi, misalnya, dapat menyebabkan anemia yang berdampak pada fokus dan daya tahan tubuh. Kekurangan kalsium dan vitamin D dapat menghambat pembentukan massa tulang optimal, yang penting untuk mencegah osteoporosis di kemudian hari.
Selain itu, pola makan tidak seimbang juga berhubungan dengan meningkatnya risiko obesitas, diabetes tipe 2, dan gangguan metabolik pada usia dewasa.
Sarapan memiliki peran penting dalam pemenuhan gizi remaja. Sarapan yang seimbang membantu menjaga kadar gula darah, meningkatkan konsentrasi, dan mengontrol nafsu makan sepanjang hari.
Sayangnya, banyak remaja melewatkan sarapan dengan alasan tidak sempat atau tidak terbiasa. Padahal, sarapan sederhana seperti nasi dengan lauk protein, roti gandum dengan telur, atau oatmeal dengan buah sudah cukup membantu memenuhi kebutuhan energi dan zat gizi di pagi hari.
Perbaikan pola makan remaja perlu dilakukan secara bertahap dan realistis. Edukasi gizi dengan bahasa yang mudah dipahami menjadi langkah awal yang penting. Remaja perlu dikenalkan pada konsep gizi seimbang, bukan sekadar larangan makanan tertentu.
Lingkungan sekolah juga berperan besar, misalnya dengan menyediakan kantin sehat dan program edukasi gizi. Di tingkat keluarga, orang tua dapat memberi contoh pola makan seimbang dan membiasakan makan bersama di rumah.
Bagi remaja sendiri, langkah sederhana seperti memperbanyak konsumsi sayur dan buah, minum air putih, serta membatasi minuman manis sudah memberikan dampak positif bagi status gizi.
Fenomena “kenyang tapi kurang gizi” pada remaja merupakan masalah nyata yang sering tidak disadari. Pola makan tinggi kalori namun rendah zat gizi dapat mengganggu pertumbuhan, kesehatan, dan prestasi remaja. Oleh karena itu, diperlukan upaya bersama dari remaja, keluarga, sekolah, dan masyarakat untuk membentuk kebiasaan makan yang lebih sehat dan seimbang sejak dini.
World Health Organization. Adolescent Nutrition.
https://www.who.int/health-topics/adolescent-health#tab=tab_2
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Gizi Seimbang.
https://gizi.kemkes.go.id
UNICEF. Nutrition in Adolescence.
https://www.unicef.org/nutrition/adolescent-nutrition